BEI Proyeksikan Lonjakan IPO 2026 Dorong Transaksi Harian Pasar Modal Nasional

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:52:19 WIB
BEI Proyeksikan Lonjakan IPO 2026 Dorong Transaksi Harian Pasar Modal Nasional

JAKARTA - Memasuki tahun 2026, pasar modal Indonesia membuka lembaran baru dengan target pertumbuhan yang terbilang agresif. 

Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak hanya menargetkan peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi juga memperluas basis emiten melalui penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). 

Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah BEI untuk memastikan pasar modal nasional tetap relevan, kompetitif, dan berdaya saing global di tengah dinamika ekonomi dunia.

Optimisme tersebut tercermin dari rencana BEI untuk menambah puluhan perusahaan baru yang akan melantai di bursa sepanjang 2026. Dengan semakin banyaknya emiten, BEI berharap likuiditas pasar meningkat dan investor memiliki lebih banyak pilihan instrumen investasi yang berkualitas.

Target Ambisius IPO Sepanjang 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) merancang penambahan 50 emiten baru melalui initial public offering (IPO) sepanjang 2026. Dalam periode ini, nilai rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) diperkirakan dapat mencapai Rp15 triliun. 

Target tersebut mencerminkan keyakinan BEI terhadap daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor domestik maupun global.

Peningkatan jumlah IPO dinilai menjadi salah satu motor utama dalam mendorong pertumbuhan transaksi harian. Semakin banyak perusahaan tercatat, semakin besar pula potensi perputaran dana di bursa, baik dari aktivitas perdagangan saham maupun instrumen pasar modal lainnya.

Masterplan BEI 2026–2030 Jadi Landasan Strategis

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Iman Rachman menuturkan pihaknya telah menyiapkan arah pengembangan pasar modal Indonesia untuk lima tahun berikutnya, agar momentum pertumbuhan pasar modal terus terjaga. Menurutnya, strategi ini telah dirangkum secara komprehensif dalam masterplan BEI periode 2026–2030.

“Melalui masterplan BEI 2026-2030, kami menetapkan tujuan besar pada 2030, yaitu membangun pasar modal yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global,” ujar Iman.

Masterplan tersebut dirancang untuk menjawab tantangan sekaligus peluang pasar modal ke depan, mulai dari transformasi digital, penguatan perlindungan investor, hingga peningkatan integrasi pasar Indonesia dengan ekosistem keuangan global.

Misi Masuk Top 10 Pasar Modal Dunia

Dalam pandangan manajemen BEI, penguatan pasar modal nasional bukan semata soal angka transaksi, tetapi juga posisi Indonesia di tingkat internasional. 

Dia berharap pasar modal Indonesia dapat masuk ke dalam top 10 pasar modal dunia dalam hal kapitalisasi pasar, atau nilai transaksi, sekaligus memberi manfaat optimal bagi investor, emiten dan perekonomian nasional.

Untuk mencapai target tersebut, BEI menilai dibutuhkan sinergi antara regulator, pelaku pasar, serta pemerintah. Stabilitas makroekonomi, kejelasan regulasi, dan iklim investasi yang kondusif menjadi prasyarat penting agar target jangka panjang ini dapat terealisasi.

Asumsi Makro dan Target RNTH 2026

Iman melanjutkan BEI juga menetapkan sejumlah asumsi untuk pasar modal Indonesia, berdasarkan kondisi makro perekonomian nasional dan global. Dalam kerangka tersebut, BEI mengasumsikan nilai RNTH 2026 mencapai Rp15 triliun, dengan 555 pencatatan efek pada 2026, di antaranya berupa 50 saham baru.

Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pencapaian RNTH sebesar itu diharapkan menjadi indikator bahwa aktivitas perdagangan di BEI semakin likuid dan efisien, sekaligus menunjukkan kepercayaan investor yang terus menguat.

Perluasan Basis Investor Domestik

Selain menambah emiten, BEI juga memfokuskan perhatian pada pengembangan basis investor. Dia juga mengatakan BEI terus memanfaatkan berbagai hal untuk mencapai pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia sebanyak 2 juta investor baru pada 2026.

Langkah tersebut dilakukan melalui berbagai inisiatif, mulai dari edukasi keuangan, digitalisasi layanan pasar modal, hingga kolaborasi dengan pelaku industri keuangan lainnya. Dengan meningkatnya jumlah investor ritel, BEI berharap struktur pasar menjadi lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada aliran dana asing.

Dukungan Pemangku Kepentingan Jadi Kunci

Keberhasilan masterplan BEI tidak lepas dari dukungan seluruh pemangku kepentingan.

 “Kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari seluruh emiten, Anggota Bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar masterplan 2026-2030 BEI dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap kebijakan dan inovasi yang diterapkan BEI dapat berjalan efektif, mulai dari proses pencatatan efek hingga peningkatan kualitas perdagangan di pasar sekunder.

Pencatatan Efek Tak Hanya Saham

Sebelumnya pada tahun 2025, Bursa diketahui menargetkan sebanyak 555 efek baru tercatat dari sebelumnya sekitar 400 efek untuk 2026. Target pencatatan ini tidak hanya mencakup saham IPO, tetapi juga berbagai instrumen pasar modal lainnya.

Pencatatan sebanyak 555 efek tersebut juga mencakup pencatatan emisi obligasi, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange-Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), dan Efek Beragun Aset (EBA), serta emisi waran terstruktur. 

Diversifikasi instrumen ini diharapkan dapat memperluas pilihan investasi dan memperdalam pasar modal Indonesia.

Perbandingan dengan Target Tahun Sebelumnya

Sementara itu, untuk target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) BEI untuk 2026 adalah sebesar Rp14,5 triliun, meningkat dari tahun 2025 yang sebesar Rp13,25 triliun. Kenaikan target ini mencerminkan ekspektasi BEI terhadap pertumbuhan aktivitas perdagangan yang lebih tinggi seiring bertambahnya emiten dan instrumen investasi.

Dengan fondasi yang telah dibangun pada 2025, BEI optimistis 2026 akan menjadi tahun akselerasi bagi pasar modal Indonesia. 

Jika seluruh asumsi dan strategi berjalan sesuai rencana, target IPO, RNTH, dan perluasan investor bukan hanya angka di atas kertas, melainkan pijakan nyata menuju pasar modal nasional yang semakin matang dan berdaya saing global.

Terkini