Klaim Swasembada Beras Prabowo Lengkapi Sejarah Ketahanan Pangan

Kamis, 08 Januari 2026 | 10:15:13 WIB
Klaim Swasembada Beras Prabowo Lengkapi Sejarah Ketahanan Pangan

JAKARTA - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai tercapainya swasembada beras kembali menempatkan isu pangan sebagai pusat perhatian nasional. 

Klaim tersebut disampaikan dalam retret kabinet sekaligus Taklimat Awal Tahun 2026, menandai sebuah tonggak yang dinilai penting dalam perjalanan ketahanan pangan Indonesia. Dengan capaian ini, Indonesia tercatat telah mencapai swasembada beras sebanyak tiga kali sepanjang sejarah pemerintahannya.

Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa Indonesia secara resmi mencapai swasembada beras per 31 Desember 2025. 

Ia menyebut cadangan beras pemerintah telah melampaui angka strategis, menjadi indikator utama keberhasilan kebijakan pangan nasional pada awal masa pemerintahannya.

“Alhamdulillah target yang saya berikan kepada tim pangan kita waktu awal pemerintahan saya pimpin adalah empat tahun untuk swasembada pangan. Alhamdulillah, pada 31 Desember 2025, waktu 24.00. Bisa kita dengan resmi mengatakan Republik Indonesia swasembada beras,” ujar Prabowo.

Menurut klaim Presiden, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) Indonesia pada 2025 telah melebihi 3 juta ton. Data Badan Pangan Nasional (BPN) juga mencatat stok cadangan beras pemerintah di Bulog mencapai 3,248 juta ton hingga akhir tahun 2025. 

Dengan capaian tersebut, Indonesia kembali masuk dalam daftar negara yang mampu memenuhi kebutuhan beras nasional dari produksi dalam negeri.

Swasembada Beras Pertama pada Era Soeharto

Sejarah mencatat bahwa swasembada beras pertama kali dicapai Indonesia pada era kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Pencapaian tersebut terjadi pada tahun 1984, saat produksi beras nasional berhasil melampaui tingkat konsumsi domestik.

Pada periode tersebut, produksi beras Indonesia tercatat sekitar 27 juta ton, sementara konsumsi nasional berada di kisaran 25 juta ton. 

Berdasarkan laman resmi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, stok beras nasional pada Januari–Mei 1984 mencapai 3.029.049 ton. Saat itu, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan sekitar 160 juta jiwa.

Keberhasilan tersebut membawa pengakuan internasional. Indonesia menerima penghargaan dari Food and Agriculture Organization (FAO) pada tahun 1985 atas keberhasilannya mencapai swasembada beras. 

Bahkan, atas nama rakyat Indonesia, Presiden Soeharto menyerahkan bantuan 100.000 ton beras hasil sumbangan petani kepada negara-negara Afrika yang tengah dilanda kelaparan.

Momentum tersebut menjadi simbol kuat kemandirian pangan Indonesia pada dekade 1980-an dan menjadi referensi penting dalam kebijakan pertanian nasional pada masa-masa berikutnya.

Klaim Swasembada Beras Era 2008

Setelah lebih dari dua dekade, swasembada beras kembali diklaim tercapai pada tahun 2008, di era pemerintahan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

Pencapaian ini disebut sebagai hasil dari berbagai program penguatan sektor pertanian yang dijalankan pemerintah saat itu.

Menteri Pertanian kala itu, Anton Apriyantono, menyatakan bahwa sejumlah negara memberikan pengakuan terhadap Indonesia atas keberhasilannya mencapai swasembada beras. 

Pengakuan tersebut disampaikan dalam Konferensi Menteri Pertanian Internasional ke-2 di Berlin, Jerman, pada 16–21 Januari 2009.

“Pengakuan tersebut terungkap ketika moderator menyampaikan pertanyaan tentang strategi yang dijalankan Indonesia sehingga mencapai swasembada beras,” ujar Anton.

Anton menjelaskan bahwa keberhasilan swasembada beras pada 2008 dicapai melalui kombinasi berbagai kebijakan, antara lain penguatan teknologi pertanian, penggunaan benih unggul, penguatan manajemen, serta pemberdayaan petani. 

Langkah-langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas dan menjaga stabilitas pasokan beras nasional.

Swasembada Beras pada Era Prabowo

Tujuh belas tahun setelah klaim swasembada beras pada 2008, Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia kembali mencapai kondisi serupa pada tahun 2025. 

Klaim ini disampaikan dalam Taklimat Awal Tahun pada Retret Jilid II Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Prabowo, kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan beras secara mandiri menjadi fondasi penting bagi kedaulatan bangsa. Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan memiliki makna strategis di tengah situasi global yang tidak menentu.

“Tidak ada bangsa yang benar-benar merdeka bila tidak mampu menjamin pangan bagi rakyatnya,” ujar Prabowo.

Presiden juga menyoroti tantangan global yang memengaruhi ketahanan pangan dunia, mulai dari konflik internasional, gangguan rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik. Dalam konteks tersebut, swasembada beras dipandang sebagai langkah krusial untuk melindungi kepentingan nasional.

Selain menyampaikan capaian tersebut, Prabowo mengapresiasi kerja seluruh jajaran Kabinet Merah Putih yang dinilai telah berkontribusi dalam mewujudkan target pangan nasional. 

Ia kembali menekankan pentingnya kepemimpinan yang berani dan proaktif dalam mengambil keputusan strategis.

“Pemimpin sejati bukan yang menunggu perintah, tapi yang memahami arah besar dan berani bertindak,” ujar Prabowo.

Dengan tercapainya swasembada beras untuk ketiga kalinya, Indonesia kembali mencatatkan sejarah penting dalam pengelolaan sektor pangan. Namun, tantangan keberlanjutan tetap menjadi perhatian, terutama dalam menjaga konsistensi produksi, kesejahteraan petani, serta ketahanan sistem pangan nasional di masa mendatang.

Terkini